mumbling rambling in the morning

Posted: December 4, 2013 in pensamientos
Tags: ,

Hola, mohon maaf belum sempat posting tentang Eurotrip seperti yang saya janjikan. Lagi “bayar hutang” kerjaan yang ditinggalin selama 3 minggu trip kemarin. :D

Ini juga nggak niat posting sih, tapi this thing’s been bothering me lately, which is soal kemapanan.

Di berbagai akun media sosial, setidaknya di lingkaran per-socmed-an saya, banyak banget beredar kutipan-kutipan soal kemapanan. Kebanyakan berhubungan soal pernikahan. JENG JENG JENG JENG.

Berhubung saya belum menikah, jadi mungkin pendapat saya ini nggak valid ya, tapi saya tetap ingin berpendapat soal ini. Lagipula, saya kan produk dari sebuah pernikahan juga, jadi ada-lah korelasinya.

Beberapa waktu yang lalu, saya baca sebuah postingan yang intinya bilang: menikahlah sebelum mapan, agar anak-anak kamu bisa tahu bahwa hidup itu nggak mudah dan perlu perjuangan.

It startled me. Kenapa? Kenapa mesti nggak mapan buat menunjukkan hidup perlu perjuangan? Bukankah cara anak memandang hidup, sedikit banyak bergantung pada bagaimana orang tuanya mendidiknya? Apa iya, harus memaksakan, misalnya, menikah dan punya anak, saat sebenarnya pemasukannya sangat belum memadai? Biar anak dan istri/suami tahu bahwa hidup butuh perjuangan, dengan ‘membiarkan’ mereka dalam kondisi, misalnya susah untuk beli formula, atau susah untuk bayar uang sekolah.

Silakan sebut saya materialistis, tapi personally, saya ingin kalau suatu saat saya menikah dan punya anak, saya bisa memberikan penghidupan yang layak dan berkecukupan untuk mereka. Kenapa? Karena saya ingin mereka punya yang namanya PILIHAN.

Saya mau punya penghidupan yang mapan dulu, sebelum nekat menghidupi manusia lain yang berasal dari darah daging saya. Bukan untuk memanjakan, tapi sekali lagi, demi memiliki PILIHAN. Kalau sudah mapan, bukan berarti saya harus membekali anak saya dengan mobil untuk ke sekolah kan? Saya tetap punya PILIHAN memberikan uang jajan secukupnya untuk naik kendaraan umum. Saya bisa memberikan pilihan kalau anak saya mau diantar pakai kendaraan pribadi, saya akan memotong uang sakunya untuk biaya bensin, misalnya. Dengan begitu, dia tahu bahwa nggak semua hal dalam hidup bisa didapat dengan mudah. Tapi dengan kondisi itu pula (baca: mapan) saat dia sakit di tengah malam misalnya, saya nggak perlu menunggu pagi tiba untuk membawanya ke rumah sakit menggunakan angkot atau becak. Saya punya PILIHAN memberikan kenyamanan di saat kegentingan macam itu menyapa.

Itu yang dilakukan orang tua saya. Saat saya duduk di Taman Kanak Kanak, bapak saya bisa saja mengantar jemput pakai mobil pribadi, karena selain memang ada mobilnya, bapak saya juga wiraswasta, jadi jadwal kerjanya fleksibel sekali. Tapi ya saya pulang pergi TK naik angkot aja. Awalnya masih diantar mama, tapi terus kejadian mama lupa ngejemput saya (-__-*), saya yang bosan karena kelamaan nunggu, akhirnya nekat pulang sendiri, naik angkot. Sejak itu, saya, sejak TK, pulang pergi sendiri, naik kendaraan umum. Saya diantar/dijemput pakai mobil pribadi sesekali saja, itu pun dengan “biaya” nyuci mobilnya sesudahnya, atau nyabutin uban bapak saya. Tapi waktu saya mengalami musibah ketimpa wastafel (yep, you read that right), bapak saya langsung bisa bawa saya ke UGD terdekat dengan mobilnya.

See what I mean?

It’s about having options. Punya PILIHAN itu suatu ‘kehormatan’, karena itu berarti kamu tidak mesti hidup dalam keterpaksaan.

Karena menurut saya, memaksakan menikah, lalu memiliki anak, tanpa mempertimbangkan masa depannya itu selfish and careless. Seolah kita ingin anak demi untuk meneruskan keturunan, tanpa memberinya bekal memadai untuk meneruskan garis keturunan itu sendiri. Ungkapan banyak anak banyak rezeki mungkin cuma berlaku di Singapura dan Norwegia saat ini.

I have nothing against menikah muda, as a matter of fact, dulu saya sempat pengen menikah muda juga. Hehehe. Dan saya melihat teman-teman saya yang menikah cukup muda juga banyak yang sukses, bahagia, kariernya tetap meningkat, rezekinya melesat seiring dengan bertambahnya anak. Tapi, nggak sedikit juga yang sebaliknya.

Jadi ya, kalau memang mau menikah dan punya anak di usia muda dan saat belum mapan, ya lakukan untuk alasan yang benar. Dan mengajarkan anak bahwa hidup perlu perjuangan bukan salah satunya, menurut saya. :)

 

 

28

Posted: November 11, 2013 in pensamientos
Tags: ,

It’s almost a month since I officially turned 28.

A lot has happened since this post of me being 27. I spent my 27th birthday at Changi Airport, Singapore, eating free ice cream from Swensens. And in that blogpost, I made a statement that having to celebrate it at an ice cream place, “I take it as a sign that my life ahead will be sweet, sometimes maybe sour, but definitely COLD”.

Guess what, it is. :)

I spent my first hours of being 28, October 13th 2013 in Bergamo Airport, Milan, Italy waiting for my flight to Frankfurt and it was darn COLD! Then I spent the rest of my birthday, attended a huge book fair, called Frankfurt Buchmesse. For a bookworm like me, it was SWEET SWEET treat.

Then, how about sour? Well, I had those too. It has not been an easy year for me.

There were times when I thought thing could NOT get any worse, and turned out it COULD and it DID got much worse. I didn’t think I can recover from that much pain. I was scared.. and physically and emotionally exhausted. Even now I’m still struggling to manage these matters. It’s not only sour, it’s also bitter.

But life must go on, right?

And it’s not like nothing good happened. Too many good things happened I’d break my fingers trying to count them.

Being 28, I know I am loved by enough. Maybe not much, but more than enough for me to go on.

I am loved by GOD, despite a lot of my wrongdoings, He’s still taking a very good care of me, listen to my meaningless monologues, grant me my wishes, making me feel at ease. There won’t be enough words to express my gratitude.

I am loved by my family. We’re not perfect, but we’re trying to be there for each other.

I am loved by my friends. We might not get together as often as we used to, but I know they are the most reliable people I will ever ever gonna have. They are the family that I chose and have chosen me to be part of theirs.

These are the people that keep me sane, keep me company. The people that really matter to me.

Being 28, I’m in a good place, professionally. I have great superiors, ones I can really look up too, I have a great team, amazing talented people – who sometimes can get very weird, but I’m a weirdo too, so it’s all good. :)

Being 28, I finally made the trip I’ve been longing for since years ago. The eurotrip. Yep, 21 days on the road, baby! More on that later. Right now, I’m just grateful I made it to this day.

Happy (belated) birthday to me. Let’s see how the 29th will be. :)

Hi! This is another review :)
Saya sudah mendengar kemahsyuran *alah kemahsyuran bahasanya* OUTBACK STEAKHOUSE sejak lama. Namun baru awal Juni 2013 ini berkesempatan membuktikan kebenarannya.
Ada 3 cabang Outback Steakhouse di Jakarta. Pondok Indah Mall 1, Ratu Plaza dan Kuningan City. Saya mengunjungi yang pertama. Lokasi-nya di lantai 1, tidak jauh dari Area 51. Kesan pertama yang saya tangkap adalah interior yang hangat, dengan dominasi nuansa kayu.

Outback Steakhouse PIM 1

Outback Steakhouse PIM 1

Karena lapar dan sudah melakukan riset kecil-kecilan (baca: googling), begitu duduk saya hanya melihat menu sekilas dan langsung memesan. Pesanan saya adalah combination appetizer, outback special dan sauteed ‘shrooms. Waitress mencatat pesanan saya dengan efisien, tanpa banyak basa-basi yang menjemukan. :D
Yang datang pertama adalah complimentary bread and butter. Rotinya berwarna coklat dengan pisau tertancap di tengah. Ngeri ya. Tapi rasanya enak. Tekstur luarnya renyah tapi dalamnya lembut dan masih hangat.

complimentary bread and butter

complimentary bread and butter

Tidak lama kemudian combination appetizer-nya datang daaan, it was SO HUGE. Porsinya gede banget, bisa buat 4 orang! Menu ini terdiri dari chicken wings, jamur goreng tepung dan french fries dengan lelehan keju dan bacon, serta saus tartar. Semuanya enak, tapi kentang gorengnya perlu dimakan lebih dulu, karena lelehan kejunya lebih enak disantap panas.

combination appetizer 120k

combination appetizer 120k

Lalu Outback Special dengan tingkat kematangan medium rare datang bersamaan dengan sauteed ‘shrooms. Saya lupa steak ini berapa gram, tapi potongannya cukup besar dan tebal, disajikan dengan mashed potato, sauteed vegetables dan saus jamur. Side dish dan sauce-nya ada beberapa pilihan, jadi bisa disesuaikan dengan selera.

Outback Special 220k

Outback Special 220k

Entah karena saya pesannya medium rare, sedangkan potongan dagingnya cukup tebal, bagian tengah daging masih terasa dingin. Dan untuk sirloin, steak ini nggak ada lemaknya sama sekali. Padahal saya milih sirloin karena suka bagian lemak-lemaknya itu. Hehehe. Tapi secara rasa sih cukup enak, meskipun kalau ke sini lagi saya akan pesan medium well atau well-done aja kayaknya. Mashed potato-nya enak, teksturnya lembut tapi tidak lembek, tidak terlalu creamy dengan sedikit rasa rempah. Saus mushroom-nya juara! Saya sampai minta tambah (free of charge). Sayurannya cukup enak, tapi potongannya yang besar membuat saya kenyang duluan melihatnya. Sementara sauteed ‘shrooms-nya gurih dan terlalu enak untuk dilewatkan.

sauteed shrooms 24k

sauteed shrooms 24k

Oia, untuk minumannya saya pesan Lemon Tea. Di sini Lemon Tea dan semua soft drinks bisa free refill. Tapi rasanya biasa saja. Lalu terakhir, dessert. Chocolate Thunder from Down Under, this is an ultimate dessert! Enak bangeeet!

chocolate thunder from down under 70k

chocolate thunder from down under 70k

Porsinya besar, cukup untuk 2 sampai 3 orang. Menu ini memadukan hot dessert dengan cold dessert dengan takaran pas! Terdiri dari brownies coklat hangat dengan potongan almond, ditumpuk dengan es krim vanila dan whipped cream serta saus coklat yang kental. Saran saya sih jangan pesan ini kalau makan sendirian, karena pasti nggak habis, porsinya besar banget dan bikin eneg kalau harus menghabiskan dessert sebanyak ini setelah makan steak.

Over all, Outback Steakhouse ini recommended. Mind you, datangnya pas awal bulan aja, abis gajian, soalnya harganya cukup bikin dompet tiris sampai gajian berikutnya ;p

Trip-nya Januari, nulisnya akhir Mei. Hehehe. Saya ke Lombok dalam rangka memang pengen dan kebetulan dapat tiket promo Garuda Indonesia.

Nggak banyak yang akan saya ceritakan selain ketakjuban saya akan alam Lombok (terutama pantai-pantainya) yang cantik-cantik sekali. Karena beberapa titik yang ingin saya kunjungi jaraknya berjauhan, dan saya jalannya sendirian, jadi saya memutuskan menggunakan jasa guide selama di Lombok. Guide-nya sepaket dengan mobil dan bensin, jadi judulnya backpacker bergaya (dikit), soalnya penginapannya tetap cari yang murah banget (karena duitnya udah abis buat bayar guide, hehehe).

Itinerary saya adalah sebagai berikut:
21 Januari: Sampai Lombok, langsung ke penginapan di Senggigi
22 Januari: Desa Sade, Pantai Kuta, Tanjung Aan
23 Januari: Gili Trawangan
24 Januari: Pantai Tangsi & Pantai Sebui (pink beach)
25 Januari: Balik Jakarta

Seperti yang bisa anda lihat, di Lombok-nya sih 5 hari ya, tapi aslinya hanya bisa eksplorasi selama 3 hari karena flight-nya kurang strategis, nyampe Lombok malam, pulang dari Lombok pagi, maklum tiket promo. Dan 3 hari itu KURANG BANGET untuk menjelajahi Lombok. And for a beach bitch like me, that place is literally a paradise, so many beautiful beaches!

Selain tempat-tempat dalam itinerary, saya juga berkesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat lain yang ternyata lokasinya berdekatan, seperti Tanjung Ringgit saat menuju Pantai Tangsi. Di hari terakhir, saya beruntung bertemu dengan iring-iringan pernikahan khas Lombok. I also made some new friends, from my guide, of course, a high – but very funny – surfer, and last but not least, 2 nice girls from Malaysia, Byya and Masnona.

Below are the pictures, taken by me, my guide, Byya, and Masnona. Enjoy!

This slideshow requires JavaScript.

Seperti yang pernah saya tulis di sini, Dewi Lestari adalah my all-time-favorite writer. Tapi, mengingat film yang diadaptasi dari novel umumnya jarang ada yang “sukses”, jadi saya berusaha tidak punya ekspektasi apa-apa saat menonton Madre. Saya berusaha melihat Madre sebagai karya baru yang berbeda dari buku.

Ternyata.. sulit ya.. :D

30 menit pertama, saya melihat “adaptasi” yang dilakukan penulis skenario, malah menghilangkan esensi madre itu sendiri. Memang, madre ditunjukkan sebagai sesuatu yang sakral, bahkan cara menyentuh, mengangkat, dan mengeluarkannya dari kulkas pun dibuat sedemikian rupa hati-hatinya. Tapi bagi saya, kesan yang diperoleh adalah konyol, atau kalau ngikut istilah jaman sekarang mah “lebay”. Kehati-hatian yang berlebihan menjadikan adegan ini nyaris comical. Kesan yang sama nampak juga dalam penggambaran karakter 3 ibu-ibu dan 1 bapak pegawai Tan De Bakker. Comical.
Oia, setelah adegan mengeluarkan Madre dari kulkas untuk pertama kali tersebut, tidak ada lagi adegan yang menguatkan kesakralan madre, madre kemudian hanya terselip dalam percakapan antar tokoh, itu pun sebagai topik yang dianggap mengganggu.

Beranjak ke karakter utama, Tansen dan Pak Hadi. Saya paham, pengubahan latar belakang cerita dari Jakarta ke Bandung menjadi salah satu faktor yang menyebabkan karakter Pak Hadi dibuat nyunda. Tapi sebagai orang separuh Sunda, menurut saya penambahan bahasa Sunda di sini dan di sana yang dilakukan Didi Petet, malah berkesan maksa. Seperti ingin melucu, tapi hasilnya malah jauh dari lucu, heu-euh? :/

Sementara Tansen, mulai dari wig gimbal yang tidak meyakinkan, hingga akting Vino yang.. Vino banget. :/

Vino di Madre, bermain seperti Vino di Catatan Akhir Sekolah atau Realita Cinta Rock ‘n Roll, bukan sebagai Tansen. Dan menurut saya, ini fatal. Sebagai tokoh sentral yang menjadi pusat cerita, kegagalan Vino ‘menghidupkan’ Tansen, membuat sebagian besar adegan menjadi membosankan, karena saya tidak merasakan emosi Tansen yang merasa terkekang saat harus mengelola madre hingga dia akhirnya lari kembali ke Bali atau Tansen yang marah dan membela madre mati-matian saat meeting bersama direksi Fairy Bread. Karena tidak ada adegan yang menggambarkan perkembangan hubungan emosi antara Tansen dan madre itu sendiri. Jadi ketika Tansen tahu-tahu membela madre sedemikian rupa, yang terasa adalah omong kosong. Yang dominan terasa bukan kecintaan Tansen pada madre, tapi kekecewaan Tansen mengetahui Mei akan menikah dengan orang lain.

Kalau penokohan Tansen sukses membuat saya kecewa, penokohan Mei justru sebaliknya. Laura Basuki sangat berhasil menghidupkan karakter Mei. Bagaimana dia membaui roti yang baru keluar dari panggangan, sibuk berbicara di telepon, malu-malunya saat disandingkan dengan Tansen, determinasinya menghidupkan kembali Tan De Bakker, kepeduliannya terhadap Tansen, tangisannya saat merindukan Tansen. Pas.

Selain itu, dua jempol untuk tim properti dan set designer. Toko Tan De Bakker begitu meyakinkan karena properti-properti yang memberikan kesan vintage dan otentik di setiap sudutnya. Cermin dengan tulisan “Sudah rapikah anda?” (or was it “Sudahkah Anda rapi?” — lupa saya), panggangan di dalam dinding, rak dan wadah-wadah rotan, sampai papan nama gantung Tan De Bakker, keren bangetlah!

Kalau Anda sudah baca Madre, dan mencintainya karena kedalaman makna Madre itu sendiri, bersiap saja untuk kecewa. Tapi kalau Anda penggemar film bergenre romantic comedy, Madre boleh dipertimbangkan. Karena Madre di sini, adalah film tentang kisah cinta Tan Sen, si tukang roti. :)

Convivium menawarkan masakan khas Italia. Sebagai penggemar pasta, saat mendapat informasi bahwa pasta di sini enak, saya pun meluncur dengan penuh semangat. Untungnya ada pekerjaan yang mengharuskan saya berkunjung ke area Panglima Polim, tempat restoran ini berada.

Kesan pertama melihat tempatnya: cute. Desain interior-nya cukup nge-pop dengan bar stool dan kursi-kursi sederhana, ranting berhias lampu kecil-kecil, serta tumpukan buku-buku resep yang cover-nya sangat chic. Ruang yang tidak terlalu luas memberikan kesan hangat. Sayangnya, ini tidak didukung dengan pelayanan yang hangat.

Outside Convivium

Outside Convivium

the counter

the counter

Convivium

Convivium

Butuh lebih dari 10 menit untuk meminta waiter membersihkan meja yang akan kami tempati. Lalu saat kami siap memesan, berkali-kali kami diminta menunggu karena tidak ada waiter yang dapat melayani, padahal saat itu kondisi Convivium terbilang sepi, tidak banyak meja yang terisi.

Saya dan teman-teman lalu memesan 3 main course, 3 jenis minuman, dan 3 jenis cake. Kami diberi 1 wadah kecil berisi cheesestick untuk sebagai cemilan untuk menunggu pesanan kami datang. Cheesesticknya enak. :)

complimentary cheesestick

complimentary cheesestick

Main course yang kami pilih adalah straccetti con crema e funghi, spagetti chitarra al nero di seppia, roasted chicken (lupa nama italia-nya apa). Straccetti con crema e funghi adalah pasta krim dengan potongan daging dan jamur, cukup enak namun porsinya terlalu sedikit kalau menurut saya. Spagetti chitarra al nero di seppia, adalah menu eksperimen saya, pasta dengan tinta dan potongan daging cumi, nggak enak. Rasanya hambar dan amis. Saya mencoba menambahkan garam dan saus, tapi tidak terlalu membantu. Roasted chicken-nya so so, seperti ayam panggang yang dijual di supermarket macam Food Hall atau Carrefour.

straccetti con crema e funghi 50k

straccetti con crema e funghi 50k

spagetti chitarra al nero di seppia 80k

spagetti chitarra al nero di seppia 80k

roasted chicken and baked potato

roasted chicken and baked potato

Minuman yang saya pesan adalah signature beverage dari Convivium, yaitu classic homemade lemonade. Rasanya cukup segar, meski terlalu asam untuk selera saya, sehingga saya meminta tambahan gula cair untuk mengurangi asamnya. Teman saya memesan Iced Tea — standar es teh lah, dan blueberry lemonade. Yang terakhir ini cukup enak dan unik rasanya, manis dan asamnya pas.

blueberry n classic homemade lemonade 30k

blueberry n classic homemade lemonade 30k

Beranjak ke kue-kuenya. Dari semua pesanan kami, menurut saya inilah menu-menu yang jadi juara. Kami memesan torta passione a.k.a red velvet cake, torta al te verde a.k.a green tea cake, dan torta al limone a.k.a lemon cake. Semuanya enak. Tekstur dan komposisi cake dengan krim-nya pas. Yang saya agak bingung cuma kenapa di setiap krimnya ada parutan kelapa. Enak-enak aja sih, tapi heran aja kenapa semuanya pakai parutan kelapa. :D

torta passione

torta passione

torta al te verde 30k

torta al te verde 30k

torta al limone 30k

torta al limone 30k

menu - pasta

menu – pasta

Untuk harga, menurut saya sih agak mahal ya kalau dibandingkan dengan porsi dan rasanya yang biasa saja (kecuali untuk cake-nya). Jadi nggak berminat untuk datang lagi sih kecuali ada yang berbaik hati mentraktir saya, hehehehe..

Bagi kaum pekerja pada umumnya, hari Sabtu identik dengan libur. Waktunya bersantai, menyegarkan pikiran, setelah dipakai bekerja Senin hingga Jumat. With me, that’s not always the case. Seringkali Sabtu, bahkan Minggu dipakai untuk bekerja. Maklum, waktu kerja saya memang sangat ‘fleksibel’.
Seperti 2 minggu yang lalu. Saya harus masuk di hari Sabtu. Ada syuting sebuah program yang diadakan di kawasan Kemang, mulai dari pagi hingga (estimasinya) sore.Lalu disambung dengan meeting program yang lain di kawasan Pondok Indah, pukul 23.00.

JENG JENG JENG JENG!!

Yap, you read that right. Meetingnya dimulai pukul 11 malam, on saturday night. ‘Fleksibel’ kan? :D

Jadilah Sabtu, 2 Februari 13 itu saya mulai dengan bangun (sedikit) pagi. Not really my favorite way to start a Saturday, but I gotta do it anyway, don’t I? Menjelang tengah hari saya tiba di lokasi dan ternyata syutingnya memakan waktu lebih banyak dari perkiraan. Hampir pukul delapan malam semuanya baru selesai.

Saya pun memutuskan untuk hang out di Kemang daripada kembali ke kantor untuk menunggu waktu meeting tiba. Soalnya, dengan kondisi Kemang di malam minggu kaya gitu (baca: MACET PEMIRSAH!), yang ada waktu saya habis di jalan kalau mesti balik kantor dulu.

Selain itu, seorang teman kantor pernah cerita tentang restoran Italia di daerah Kemang yang – according to him – uenake pol dan nggak pernah gagal memberinya foodgasm. Namanya Toscana (restorannya, bukan teman kantor saya). Sebagai tukang makan sejati, dengan penuh semangat saya berniat untuk menyambangi tempat ini.

Masalahnya, saya masih cukup kenyang karena baru makan malam sekitar pukul tujuh. Tapi, jarang-jarang juga saya ke Kemang, jadi saya pun mampir ke ak.’sa.ra (toko buku) dulu untuk “nurunin” makanan yang saya makan sebelumnya, sehingga ada ruang untuk makanan Toscana. :D

Oh how I love this place.
aksara
(foto saya ambil dari blog yang alamatnya tertera sebagai watermark)

Toko buku selalu berhasil membuat saya lupa waktu. Tahu-tahu hampir pukul 9 malam dan saya nggak tahu Toscana tutup jam berapa, jadi saya bergegas membayar belanjaan saya, yang salah satunya adalah buku ini.

Norwegian Wood - Haruki Murakami

Norwegian Wood – Haruki Murakami

Karena nggak tahu Toscana itu persisnya di Kemang sebelah mana, saya pun bertanya pada kasir ak.’sa.ra. Menurut informasi yang dia dapat, arahnya lurus saja dari ak.’sa.ra. Keluar ak.’sa.ra, niat saya untuk naik taksi buyar, karena jalanan macet parah. Akhirnya saya memutuskan jalan kaki dengan asumsi, “ah paling juga nggak jauh-jauh amat”. Guess what, JAUH BANGET TERNYATA!!

Saya jalan, dan jalan, dan jalan, dan mikir, “kok nggak sampai-sampai ya..”. Saya nanya 1 orang, nggak tahu, nanya orang kedua, jawabannya sama juga, nanya mbah google, dikasih alamat dan peta yang mana saya nggak ngerti bacanya.. Akhirnya nanya lagi ke orang ketiga, yang mengkonfirmasi info dari mas kasir ak.’sa.ra bahwa memang tinggal lurus aja, tapi memang jauh, jadi mending nggak jalan kaki. Saat mendapat info itu, saya mungkin sudah jalan kaki sebanyak 7000 langkah, jadi supaya kebutuhan tulang saya terpenuhi, saya pikir 3000 langkah lagi ajalah sekalian… Guess what lagi, MASIH JAUH BANGET TERNYATA!

Sampai akhirnya..
Kelihatan juga neon-sign dari Toscana, ristorante italiano.
Toscana Kemang  Jl. Kemang Raya No. 120 Jakarta Selatan 12730.  Telp : (021) 7181216, 7181217
Foto tampak depan Toscana ini saya ambil dari blog ini melalui mbah google (waktu itu sudah terlalu sumringah karena akhirnya sampai, jadi udah kelewat nggak sabar untuk masuk dan lupa motret)

Begitu masuk, saya langsung disambut sama maître d’ yang mengarahkan saya ke meja, menarikkan kursi saya, dan meletakkan napkin di pangkuan saya. Ia lalu memanggil seorang waitress untuk memberikan saya menu, complimentary bread and butter, dan air putih dingin. Boy, I was impressed. Karena meski pelayanannya a la fine dining begitu, tempatnya sendiri tidak terasa terlalu formal. Penataan meja memang a la fine dining, tapi ambience-nya cukup hangat. Saya mengamati sekeliling saya, karena sempat khawatir kostum saya (seperti biasa, jeans, kaos dan sepatu kets) nggak cocok dengan ambience Toscana. Tapi meskipun ada beberapa yang dandanannya pol, kostum sebagian besar pengunjung cukup casual.

Setelah mengamati menu sebentar, saya pun.. bingung. Hampir semua dalam istilah Italia (dan entah gimana terkesan enak buat saya). Saya pun bertanya pada mbah google dan dapat beberapa recommended menu. Untuk memastikan, saya pun bertanya pada waitress saya sebelum akhirnya memesan beberapa makanan berikut:

Appetizer: Carpaccio Al Pesto
Carpaccio Al Pesto -20130202-2117
Ini adalah daging sapi mentah yang diiris tipis-tipis, dengan topping dedaunan (nggak tahu daun apa, tapi cukup enak), keju dan potongan jamur. Entah karena perpaduan daging dan daunnya, atau karena semacam saus rempah-rempahnya, yang membuat makanan pembuka ini cukup enak – mengingat ini daging mentah :D

First Course: Ravioloni alla Toscana
Ravioloni Alla Toscana 20130202-2142
Pasta di tempat ini kabarnya semua homemade, dan buat saya ini terasa di teksturnya yang pas, nggak terlalu lembut, tapi nggak kaku juga. Sayangnya, menu ini – meski recommended— ternyata bukan selera saya. Ravioloni alla Toscana ini adalah pasta yang sausnya tomat banget, terlalu asam buat saya yang lebih suka saus creamy. Di menu, Ravioloni alla Toscana menggunakan red wine, and since I don’t drink alcohol, saya minta untuk nggak pakai.

Dessert: Panna Cota Con More
Panna Cotta Con More 20130202-2155
This was the highlight of my meal. E.N.A.K.

Bagaimana dengan harga? Total pesanan saya lumayan menguras dompet, tapi sebenarnya harganya cukup standar untuk restoran macam ini. Kalau pintar memilih kombinasi menu, dan tidak pesan minum –karena disediakan free flow water— dengan Rp. 100.000 sudah cukup untuk first course dan dessert, meski harga minumannya pun tidak terlalu mahal, mulai dari Rp. 15.000-an. Pastanya mulai dari Rp. 40.000-an, sedangkan untuk dessert Rp. 20.000-an.

Selesai makan, saya pun segera menuju kawasan Pondok Indah (kali ini naik taksi, cukup sudah jatah saya jalan kaki hari ini). Meeting baru dimulai hampir pukul 12 malam, dan baru selesai pukul 3 dini hari. But it was a fun and powerful meeting. :)

So, that’s my kind of Saturday, working and eat in solitude. How about yours?